Kenapa Allah Beri Kita Ujian ?

Kenapa Allah Beri Kita Ujian ?

Thursday, 29 March 2018, March 29, 2018
Mengapa Allah Beri Kita Ujian ?







Mengapa Allah Beri Kita Ujian ?

Ramai orang bertanya kenapa mereka diuji sedangkan mereka tidak berbuat salah apa-apa ? Persoalan seperti itu tidak wajar keluar dari lisan seorang hamba yang menyerah diri dan mengerti tujuannya hidup di atas muka bumi ini.

Firman Allah SWT : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk : 2)

Hidup ini ialah untuk diuji lalu kenapakah kita mesti mempersoalkan mengapa Allah menguji kita dan mengaitkannya dengan kesalahan-kesalahan tertentu ? Apakah mesti ada kesalahan baru berhak diuji ? Adakah jika kita melakukan semua perintah Allah maka kita akan terselamat daripada diuji ?

Sedangkan Rasulullahshalallahu'alaihi Wassalam menyebut bahwa yang paling teruk diuji ialah

الأنبياء ، ثم الأمثل فالأمثل ، يبتلى الرجل على حسب دينه

“Para nabi kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Diuji seorang manusia itu berdasarkan kadar agamanya, jika dia seorang yang kuat beragama maka kuatlah pula bala yang diterimanya, dan jika seseorang itu lemah agamanya maka diuji hanya pada kadar agamanya. (tambahan dalam riwayat yang lain menyebut) Tidaklah hilang bala itu pada seseorang hamba sehinggalah dia berjalan di atas tanah dengan telah terhapus segala dosa-dosanya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah,).

Atau sebenarnya kita ingin memprotes dan mempertikaikan kenapa kita diuji karena kita telah menunaikan shalat, melaksanakan perintah Allah dan sebagainya lalu kita mengharapkan sepatutnya hidup kita tidak lagi diganggu oleh Tuhan dengan apapun ujian agar kita boleh hidup dengan senang dan bahagia di atas muka bumi ini ?

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Ankabut : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja hidup senang-senang) mengatakan: "Kami telah beriman", sedangkan mereka belum lagi diuji ?” (QS. Al-Ankabut : 2)

Ujian yang datang dari Allah membawa dua tujuan yaitu rahmat dan kebinasaan. 

Allah memberikan rahmat apabila manusia berhasil mengarunginya dengan keimanan dan kesabaran serta lulus pada amal dan perbuatannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. 

Ujian seperti ini meningkatkan/meninggikan kedudukan seseorang di sisi Allah SWT serta menghapuskan dosanya dan memberikan peluang kepadanya untuk mendapatkan surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

 Rasulullahshalallahu'alaihi Wassalam bersabda,

إذا أحب الله قوما ابتلاهم

Maksudnya : “Apabila Allah mencintai sesuatu kaum maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)

Manakala ujian yang kedua pula memberikan musibah dan penyebab kepada kehancurannya di dunia dan di hari akhirat. Yaitu ujian yang berbentuk menjauhkan seseorang dari agama dan mengeluarkannya daripada jalan Allah.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Mereka berkata: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang bersamu." (Nabi) Shaleh berkata: "Nasibmu adalah dari sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu adalah kaum yang diuji."(An-Naml : 47)

Kita semua akan diuji karena itu merupakan tujuan dan sebab kita diturunkan ke atas muka bumi ini yaitu untuk diuji agar dapat dilihat siapakah yang beriman dan siapakah yang tidak. 

Ujian ialah peluang dan tanda kita dipandang oleh Allah Ta'ala

Firman Allah : “Dan sungguh akan Kami memberikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( QS. Al-Baqarah : 155)

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah hanya menguji orang yang dikasihinya atau yang mau diberikan peluang untuk mereka beramal manakala orang-orang yang kafir dibiarkan dan tidak dipedulikan oleh Allah, sebaliknya ditangguhkan balasan ke atas kesalahan-kesalahan mereka agar dihukum di hari akhirat dengan hukuman yang berat. Sedangkan orang yang beriman akan diuji sehingga dosa dan kesalahan mereka terhapus lalu dibangkitkan pada hari akhirat dengan keadaan suci bersih dari dosa.

Ini berdasarkan hadits dari Anas Radhialallahu'anhu yang menyebut bahwa Rasulullahsalallahu'alaihi Wassalam pernah bersabda yang bermaksud apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba maka akan disegerakan hukuman terhadapnya di dunia dan jika Allah mengkehendaki keburukan kepada hamba-Nya maka dia akan menangguhkan hukuman terhadap dosanya agar dibalas pada hari kiamat.” (HR. Hakim)

Rasulullahshalallahu'alaihi Wassalam bersabda,

من يرد الله به خيرا يُصِبْ منه

Maksudnya : “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan maka dia akan ditimpakan dengan musibah.” (riwayat Al-Bukhari)

Manakala orang yang munafik dan tidak beriman, mereka diberikan kesenangan dan kelalaian sehingga menemui Allah SWT dalam keadaan sia-sia dan menderita akibat tidak beriman dan tidak beramal.  Bahkan Allah menyebut di dalam Al-Quran, yang bermaksud : “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah : 126). Kata Imam Ibn Katsir, yang dimaksudkan dalam ayat di atas ialah orang-orang munafik diuji dengan kelaparan dan penyakit setahun sekali atau dua kali. Menandakan sangat sedikit mereka diuji sehingga menimbulkan kelalaian dan keangkuhan dalam diri mereka. 

Apabila Allah menguji hamba-hamba-Nya itu bermaksud Allah masih memberikan peluang dan kesempatan untuk kita bertaubat dan kembali kepada-Nya serta mengambil pelajaran dari apa yang kita alami saat itu. Oleh itu jangan dipandang bahwa orang yang hidupnya tiada masalah, sempurna dan tenang sebagai orang yang mendapat rahmat sebaliknya mereka itulah orang yang telah diabaikan dan terlepas peluang dari mendapat rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Demikian semoga bermanfaat.


***

Penulis :Ustadz Emran
Murojaah : Muhammad Syafii
Artikel : support-hijrah.blogspot.co.id

TerPopuler