Mendidik diri Sendiri dengan Berpuasa -->

Mendidik diri Sendiri dengan Berpuasa

Sabtu, 06 April 2019, April 06, 2019

Saatnya mendidik diri sendiri dengan berpuasa dibulan Ramadhan

Islamidina.ID — Mengendalikan atau Mengontrol diri sendiri dari segala hal berupa keinginan maupun hasrat adalah satu hal yang berat. Tidak heran apabila ada pernyataan bahwa mengontrol hawa nafsu merupakan jihad yang berat. Ya, Melawan diri sendiri dapat diartikan melawan sesuatu yang ghaib, abstrak. Didepan mata, namun tak mudah dirasa. Ada, namun sulit dirupa.

Sedimikian itulah beratnya pengendalian diri, maka dari itu, Islam mengajarkan, mengajak ummat pemeluk nya untuk secara intensif latihan selama satu bulan lamanya. Apa latihan itu? Ya, latihan itu dinamakan shiyam atau shaum, berpuasa. yang secara etimologi berarti menahan diri (al-imsak). Di dalam shaum sendiri terdapat berbagai macam pelajaran atau nilai. Salah satu diantaranya ialah:

Kesadaran Diri
Disaat kita menahan lapar ketika berpuasa, manusia diharapkan mampu berpikir tentang siapakah yang selama ia hidup masih diberi karunia; makan, minum, serta nikmat lainnya. Dengan adanya kesadaran diri itu, dapat mendorong seseorang menjadi lebih taat, serta lebih bersyukur atas segala karunia.

Dengan berpuasa, seorang muslim diajak untuk menghayati tentang eksistensi atau keberadaan Tuhan dan dimana posisi dirinya. Puasa pun dimaksudkan untuk menghilangkan sifat rakus dalam diri manusia, yang dimana pada dasarnya tidak akan pernah merasa puas sebelum ia hidungnya ditutup kapas.

Hasrat atau keinginan inilah yang serigkali tak terpuaskan yang kemudian berakhir menjadi bencana, entah itu bagi dirinya sendiri ataupun oranglain. Dari situlah akan nampak betapa bagusnya ajaran berpuasa yang sebenarnya untuk meningkatkan kualitas diri. Ketika sedang berpuasa, kita dituntut untuk menahan amarah jika tidak ingin puasanya batal. Dari hal seperti itulah akan menaikkan level kesabaran kita ke posisi yang lebih tinggi.

Dengan berpuasa, Islam mengajarkan ummatnya untuk berpandangan ke masa depan (future oriented). Maksudnya, ketika seorang muslim berpuasa, maka adakalanya menahan kenikmatan jasmani yang sesaat, menahan segala sesuatu yang dapat membatalkannya, hal itu sebenarnya dapat dijadikan investasi sejati untuk tabungan akhirat. Seperti contohnya ketika adzan sudah berkumandang, kita yang sedang berpuasa, kemudian berbuka. Nah demikian itulah, setelah kita menahan lapar selama berjam-jam, kita merasakan kenikmatan, meraih kemenangan dimasa jam berikutnya.

Puasa juga mampu mengajarkan seseorang menumbuhkan dan mempertajam jiwa kesosialannya, setidaknya dengan memberi atau berempati kepada orang yang berada disekitar lingkungan terdekat kita. Dengan adanya perintah mengeluarkan Zakat Fitrah di penghujung akhir bulan Ramadhan, itu menandakan adanya sasaran sosial yang harus diraih oleh setiap muslim setelah satu bulan lamanya berpuasa. Yakni, sebuah komitmen moral dan keprihatinan sosial untuk mengikis jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. []
-S.A

TerPopuler