Penjabaran Mengenai Makkiyah dan Madaniyyah

Penjabaran Mengenai Makkiyah dan Madaniyyah

Sunday, 22 April 2018, April 22, 2018


2.1 Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah
                  Secara bahasa, Makkiyah berasal dari nama tempat yakni Mekah, sedang Madaniyyah berasal dari nama tempat yakni Madinah. Keduanya adalah tempat dimana Nabi Muhammad mendapatkan wahyu Al-Qur'an dari Allah SWT selama periode kenabian.
                  Menurut Imam al-Zarkasyi dan Imam al-Suyuthi, para ulama dalam mendefinisikan istilah Makkiyah-Madaniyyah ini terbagi kepada tiga kelompok, yaitu:

1.      Berdasarkan pemilihan tempat penurunannya:
Sesuai dengan Firman Allah: "Bahwa yang dimaksud dengan al-Makkiyah, adalah surat atau ayat yang diturunkan di Mekah sekalipun itu terjadi ba'da hijrah, dan yang dimaksud dengan al-Madaniyyah, adalah surat atau ayat yang turun di Madinah."
Definisi tersebut lebih menekankan pada tempat dimana ayat atau surat itu turun. Akibatnya terdapat sejumlah ayat yang tidak termasuk pada kedua tempat tersebut. Misalnya ayat 45 dari QS. Al-Zukhruf yang diturunkan dalam peristiwa Isra Mi'raj di Baitul Maqdis, QS. Muhammad : 13 diturunkan dalam perjalanan hijrah, QS. Al-Qashash : 85 diturunkan di Juhfah dalam perjalanan hijrah sebelum memasuki kota Madinah, QS. Al-Furqan : 45-46 turun di Thaif, QS. Ar-Ra'd : 30 turun ketika terjadi perjanjian damai Hudaibiyyah, QS. Al-Hajj : 52-54 turun diantara Makkah dan Madinah sedangkan ayat pertamanya turun dalam pertempuran dengan bani Mushthaliq, QS. Al-Maidah : 67 diturunkan pada malam hari dalam salah satu pertempuran yang dipimpin langsung Rasulullah SAW. Dan masih banyak ayat-ayat lainnya[1]

2.      Berdasarkan Lafadz Khithab (Objek/Sasarannya)
“Makkiyah ialah ayat yang khittabnya/panggilannya ditujukan kepada penduduk Mekkah, sedang Madaniyah ialah yang khittabnya ditujukan kepada penduduk Madinah”
Bahwa yang dimaksud dengan al-Makiyyah, adalah surat atau ayat yang diawali dengan kalimat " يا أيها الناس (Ya ayyuha al-nas)". Sedangkan al-Madaniyyah diawali dengan kalimat " يا أيها الذين أمنوا (Ya ayyuha al-ladzina amanu)."[2] Definisi ini memberikan penekanan pada Khithab (Sasaran penunjukkan) yang kepadanya ayat tersebut ditujukan. Pengertian seperti ini juga memiliki kelemahan pada aspek generalisasi. Karena tidak semua Khithab: Ya ayyuha al-nas ditujukan pada penduduk Mekah semata, dan demikian juga sebaliknya. Sekalipun Khithab: Ya ayyuha al-ladzina amanu dimaksudkan terbatas pada kaum muslimin di Madinah, tetapi semua berlaku umum mencakup segala zaman dan tempat.
Misalnya Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 21, yang di yakini sebagai Madaniyyah tetapi memiliki kesamaan khithab dengan ayat Makkiyyah adalah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa"
Ayat tersebut adalah ayat 21 dari QS. Al-Baqarah, yang diyakini turun di Madinah (setelah hijrah), terkecuali ayat 281 yang turun kepada Rasulullah ketika berada di Mina pada peristiwa haji Wada'. Demikian juga dengan yang QS. An-Nisaa : 1 yang kalimat pertamanya di awali dengan kalimat ya ayyuha al-nas. Hal yang sama juga didapatkan dari ayat Makiyyah yang memiliki kesamaan khithab seperti ayat Madaniyyah, misalnya QS. Al-Hajj(22) : 77 yang dimana menurut para ulama adalah Makkiyah, kecuali ayat 39 yang berisi perintah berperang bagi mereka yang dizalimi adalah Madaniyyah (karena izin untuk berjihad/perang terjadi di Madinah tepatnya pada tahun kedua hijriah).[3]
3.    Berdasarkan waktu turunnya, sebelum atau sesudah hijrah
"Makiyyah adalah ayat atau surat yang diturunkan sebelum hijrah, sekalipun ia diturunkan di Madinah. Sedangkan al-Madaniyyah, adalah ayat atau surat yang diturunkan ba'da hijrah, sekalipun ia diturunkan di Mekah."
Imam al-Suyuthi mendefinisikannya sebagai berikut; Kelompok ketiga ini memberikan definisi dengan penekanan pada perbedaan waktu yang dibatasi dengan peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, Definisi ini paling banyak di terima, karena mencakup semua ayat dan surat secara keseluruhan. Sebab, tidak akan ada satu ayat atau suratpun kecuali turun sebelum atau sesudah hijrah sesuai periode dakwah Rasulullah. Dengan demikian, maka ayat yang turun sebelum hijrah dinamakan ayat Makiyyah, dan ayat yang turun sesudah hijrah dinamakan ayat Madaniyyah.
Perlu digarisbawahi pada kurun waktu di Mekah, wahyu diturunkan tidak kurang dari 13 tahun, dan selama itu pula dua pertiga Al-qur'an (88 surat) diturunkan. Sedangkan kurun waktu di Madinah tidak kurang dari 10 tahun, dan selama itu sepertiga Al-qur'an (28 Surat) diturunkan disana. Jumlah ayat-ayat Makiyyah adalah 4.558 atau sekitar 73% dari jumlah total ayat Al-qur'an. Tetapi, jika panjangnya ayat-ayat diperhitungkan, karena ayat-ayat Madaniyyah pada umumnya lebih panjang dari ayat-ayat Makiyyah, berkisar 65 dari total keseluruhannya.[4]

2.2 Ciri-ciri dan Perbedaan surat Makiyyah dan Madaniyyah

§  Ciri-ciri karakteristik surat Makiyyah
1.    Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek, setiap surat mengandung ayat sajdah.
2.    Tiap-tiap surat didalamnya terdapat lafadz " كلا" (kalla).
3.    Tiap-tiap surat  terdapat seruan; Ya ayyuhannaas.
4.    Dalam tiap-tiap surat terdapat kisah-kisah Nabi dan umat-umat terdahulu, terkecuali surat Al-Baqarah.
5.    Ayat-ayatnya membahas tentang penguatan Masalah pondasi tauhid dan Aqidah.

§  Ciri-ciri karakteristik surat Madaniyyah
1.    Setiap surat nya membahas tentang konsep bernegara, untuk syari'at, dan hukum-hukum pidana.
2.    Setiap surat nya ada perintah keizinan perang, dan jihad.
3.    Suratnya banyak menyinggung orang-orang Munafiq, kecuali QS. Al-Ankabut.
4.    Surat dan ayat nya identik panjang-panjang. Menggambarkan luasnya aqidah dan hukum-hukum islam.

Perbedaan antara Surat Makiyyah dan Madaniyyah ditinjau dari beberapa segi, diantaranya yaitu:
1.    Gaya bahasa
Ayat Makkiyyah memiliki ungkapan gaya yang khas, bukan prosa dan juga puisi, melainkan diantara keduanya. Sejenis prosa berirama dengan nada penegasan berulang kali yang menambahkan efek puitis secara keseluruhannya. Seperti halnya Firman Allah: "Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?" yang diulang sebanyak 31 kali dalam QS. Ar-Rahman. Daya tarik gaya seperti ini jelas merupakan gambaran yang lebih bersifat emosional-spiritual ketimbang logis-rasional. Perbedaan nya dengan gaya Madaniyyah begitu jelas. Sekalipun ada diantara beberapa ayat Madaniyyah berakhir dengan kata bersajak, karena keseluruhan gaya Madaniyyah adalah gaya prosa dengan sedikit tarikan puitis.
2.    Kandungan
Ciri khas Makiyyah banyak berbicara tentang sumber dakwah Nabi disertai kandungannya. Empat belas kali dalam Al-qur'an, Allah telah menekankan bahwa apa yang dikatakan Nabi adalah wahyu ilahi. Dua diantaranya adalah: "Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, hanya saja aku diberi wahyu." (QS. Al-kahfi(18) : 110 dan QS. Fushilat (41) : 6). Hanya satu yang dianggap Madaniyyah, tetapi itupun merupakan pengulangan dari surat Makkiyah, seperti ayat berikut: "Inilah bagian dari berita-berita tentang hal-hal yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad)." (QS. Ali-imran (3) : 44)
3.    Berita Gembira dan Peringatan
Tidak kurang dari 17 ayat Makiyyah menegaskan bahwa Nabi telah diutus hanya sebagai pembawa khabr (kabar) gembira dan pemberi peringatan. Kabar baik berisi janji akan kesenangan surgawi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, Rasul dan Hari kiamat; sementara itu, berita peringatan berisi ancaman azab neraka bagi orang yang tidak beriman. Secara keseluruhan, ancaman lebih banyak diberitahukan dan digunakan ketimbang janji, terutama karena hukuman bagi orang kafir, disamping merupakan ada azab di akhirat, juga mencakup segala macam hukuman di dunia. Ancaman azab di akhirat, hari kebangkitan, khususnya melimpah dalam surat-surat Makkiyah.

          2.3 Cara Membedakan Surat Makkiyah dan Madaniyyah
Untuk mengetahui ayat atau surat mana saja yang termasuk Makkiyah atau Madaniyyah ada dua macam sumber, yaitu Sumber eksternal (Khariji) dan Sumber internal (Dakhili).
Sumber eksternal adalah segala bentuk informasi diluar teks Al-qur'an yang diperoleh melalui metode sima'i naqli[5] (pendengaran apa adanya), yakni melalui riwayat yang berasal dari sahabat dan tabi'in[6]. Karena Nabi SAW tidak pernah menjelaskan ayat Makiyah dan Madaniyah. Hal ini karena pada waktu itu tidak memerlukan keterangan seperti itu.
Sumber internal adalah teks Al-qur'an itu sendiri. Secara internal akan di ketahui melalui objek (tema atau maudhu') yang dibicarakannya, yaitu mengenai masalah apa yang dibicarakan oleh suatu teks, kemudian dikonfrontasikan dengan alur sejarah yang dilaluinya. Sumber internal ini dapat diketahui dengan metode Ijtihad istinbathi atau qiyasi al-ijtihadi (Qiyas hasil ijtihad).[7]


Sementara menurut Dawud al-Aththar, metode untuk mengetahui ayat Makkiyah-Madaniyah ini disebut dengan metode deduksi. Yakni metode yang berdasar pada dalil naqli, yang acapkali disebut juga dengan metode sima'i;dan metode induksi yakni metode yang berdasar pada dalil rasional (ijtihad).[8]

          2.4 Pandangan para Ulama
§  Menurut Subhi Shalih
Jika ilmu Al-qur'an diperbandingkan, maka Makiyah-Madaniyah lebih banyak membutuhkan perhatian, karena dibutuhkan banyak kajian riwayat hadist yang mendasarinya. Subhi Shalih menjelaskan bahwa Makiyah-Madaniyah mencakup bidang kajian yang sangat luas. Seperti urutan waktu penurunan surat dan ayat, kepastian tempat penurunan, pemilihan tema, serta penentuan khithab yang dimaksud oleh suatu ayat.[9]
§  Menurut Manna' Al-Qaththan
Para ulama telah banyak melakukan upaya luar biasa dalam merumuskan Makiyah-Madaniyah. Mereka melakukan kajian tentang tahapan penurunan, mempelajari ayat, serta menarik kesimpulan penetapan sebab (asbab), waktu serta tempat penurunannya. Jika masih kurang jelas karena terlalu banyak qarinah (alasan) yang berbeda-beda, maka ulama menghimpun sejumlah data kemudian mengkompromikan, membandingkan dan mengklasifikasikan mana yang serupa atau mendekati dengan ayat yang turun di Mekah atau Madinah.[10]
§  Menurut Al-Suyuthi dalam al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an
Ia mengutip dari al-Naisaburi dalam al-Taubah 'ala Fadl 'Ulum al-Qur'an menyatakan: "Diantara ilmu-ilmu Al-Qur'an yang istimewa (asyraf 'Ulum al-Qur'an) adalah ilmu tentang Nuzul (penurunan) al-Qur'an, serta tempat dan urutan turunnya di Mekah dan Madinah.[11]
Pernyataan diatas menunjukkan bahwa Makiyah-Madaniyah merupakan elemen penting dalam kajian dakwah dan sejarah hidup Nabi Muhammad. Meski terkadang diabaikan,[12] kajian ini sangat signifikan, karena tidak mungkin bisa memahami Al-qur'an secara baik bila tidak mengetahui kapan dan dalam situasi seperti apa ayat tersebut diturunkan.
Secara umum, perbedaan pendapat dikalangan para Ulama tentang Makkiyah-Madaniyyah ini terjadi dalam beberapa masalah berikut, yakni:
1.    Batasan dalam definisi, sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas.
2.    Penetapan karakteristik dari masing-masing tempat.
3.    Penetapan jumlah ayat atau surat untuk masing-masing tempat, sehingga ada sejumlah surat yang diperselisihkan dan dianggap turun dua kali.
4.    Penetapan ayat atau surat yang turunnya di Mekah tetapi hukumnya Madaniyyah, demikian juga sebaliknya.
5.    Penetapan ayat atau surat yang diturunkan lebih dulu, sementara hukumnya baru berlaku beberapa waktu kemudian. Demikian juga sebaliknya.[13]

3.1 Kesimpulan
Secara bahasa, Makiyah berarti kota Mekah, sedang Madaniyah berarti kota Madinah. Keduanya adalah tempat Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT selama periode kenabian. Karenanya, Makiyah berarti ayat atau surat yang turun di Mekah, dan demikian juga dengan Madaniyah.
Beberapa manfaat mengetahui Makiyah-Madaniyah diantaranya:
1.    Membantu dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur'an.
2.  Dapat meresapi keindahan dan kedalaman gaya bahasa Al-Qur'an dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah.
3.  Mengetahui sejarah hidup Nabi SAW, melalui keterangan-keterangan ayat Al-Qur'an.

3.2 Daftar Pustaka
§  Arif, Zainal. Cet.1. 2017. Ulum Al-Qur'an. Jakarta: Pustaka Getok Tular
§  http://mahrus-salim.blogspot.co.id/2013/12/makkiyah-dan-madaniyah.html (diakses pada 25 maret 2018. Pukul 10.30)
§  https://zenyqq.wordpress.com/2012/12/28/makiyah-dan-madaniyah (diakses pada 25 maret 2018. Pukul 11.49)
§  https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-21 (diakses pada 25 maret 2018. Pukul 16.15)
§  Dawud al-Aththar. Perspektif Baru Ilmu Al-Qur'an. Terj. Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad. (Bandung, Pustaka Hidayah. 1994). Hlm. 142.
§  Syaikh Hudhari Bik, Tarikh al-Tasyri' al Islami (Beirut: Dar al-Fikr, 1967), hlm. 8.


[1]  Al-Zarkasyi, Op. Cit, Jilid 1, hlm. 254-256.
[2]   Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, al-Madkhal Lidirasat al-Qur'an al-Karim, (al-Qahirah, Maktabat al-Sunnah, 1992), hlm. 199.
[3] Ibid, hlm. 200.
[4] Sebagai perbandingan, lihat keterangan Syaikh Hudhari Bik yang mengatakan bahwa Al-Qur'an Makkiyah tidak kurang dari 19/30 bagian, dan Qur'an Madaniyyah tidak kurang dari 11/30 bagian.
Syaikh Hudhari Bik, Tarikh al-Tasyri' al Islami (Beirut: Dar al-Fikr, 1967), hlm. 8.
[5] Lihat al-Suyuthi. Dalam Op. Cit, Juz. 1, hlm. 56; Musa Ibrahim al-Ibrahim dalam Buhuts Manhajiah Fi 'Ulum al-Qur'an al-Karim. (Amman. Dar 'Ammaar, 1996), hlm. 42.
[6] Al-Zarqani. Ibid. Juz. 1, hlm. 96.
[7] Mana al-Qaththan, op.cit., hlm. 60.
[8]  Dawud al-Aththar. Perspektif Baru Ilmu Al-Qur'an. Terj. Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad. (Bandung, Pustaka Hidayah. 1994). Hlm. 142.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh al-Zarkasyi. Op. Cit, Juz. 1, hlm. 242.
[9] Misalnya setiap ayat yang didalamnya terdapat ungkapan "Ya ayyuhannaas" adalah Makkiyah, dan setiap ayat yang di dalamnya terdapat  ungkapan "Ya ayyuhal ladzina amanu" adalah Madaniyah. Lihat al-Zarqani, hlm. 193. Shubhi al-Shalih, Ibid, hlm. 168.
[10]  Manna' al-Qaththan, Mabahits Fi 'Ulum Al-Qur'an, (Beirut: Muassasat al-Risalat, 1976), hlm. 53.
[11]  Al-Zarkasyi, Op. Cit, Jilid. 1, hlm. 248.
[12]  Misalnya  seringkali riwayat tentang asbab al-Anuzul dan Makkiyah-Madaniyah dikutip oleh para mufassir tanpa tujuan tertentu yang berkaitan dengan usaha penafsiran yang komprhensif. Mereka mengutipnya lalu mengabaikannya. Misalnya penggunaan asbab al-nuzul hanya sekedar sebagai data sejarah semata.
[13]  Al-Zarkasyi, Op. Cit., hlm. 239-262,  Al-Suyuthi. Dalam Op,. Cit, hlm. 34 dan seterusnya dan 104-108.

TerPopuler