Kisah Mbah Ma'shum Lasem, Ayam Jago Dari Tanah Jawa -->

Kisah Mbah Ma'shum Lasem, Ayam Jago Dari Tanah Jawa

Senin, 02 Maret 2020, Maret 02, 2020
Mbah Ma'shum Lasem, Ayam Jago Dari Tanah Jawa

KH Ma’shum Ahmad, lahir dengan nama Muhammadun, adalah sosok Kyai yang alim dan sangat disegani banyak kalangan. Pendiri Ponpes Al Hidayah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah ini merupakan ayahanda dari KH. Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, sang Rais Amm PBNU periode 1981 – 1984 M.
Hasil gambar untuk mbah ma'shum lasem
KH. Ma'shum lahir sekitar tahun 1868 dari pasangan H. Ahmad dan Qosimah. Sulung dari dua saudarinya, Nyai Zainab dan Nyai Malichah ini memiliki silsilah dan hubungan darah dengan Sultan Minangkabau, bersambung hingga ke Rasulullah SAW.

Mbah Ma’shum merupakan santri dengan tipikal pengembara. Tercatat ada belasan pesantren yang didatanginya untuk menimba ilmu, dari Jepara, hingga ke Makkah Al Mukarromah.

Oleh kedua orangtuanya, pertama-tama beliau diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama. Lalu kemudian, pengembaraan ilmunya sampai di Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj. Ketiganya merupakan Kyai khos dari Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Setelah beberapa tahun berselang, Ma’shum muda sampai di Kudus. Disana ia belajar kepada Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin. Lalu kemudian di Sarang Rembang bersama Kiai Umar Harun, Solo bersama Kiai Idris, Termas dengan Kiai Dimyati, Semarang kepada Kiai Ridhwan, Jombang kepada Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Bangkalan kepada Kiai Kholil, lalu yang terakhir di Makkah, langsung kepada Kiai Mahfudz At-Turmusi.

Mbah Ma’shum, adalah satu dari beberapa Kyai yang memiliki julukan “binatang”. Tapi tunggu dulu, yang pasti bukan binatang sembarangan. Mbah Djazuli Ploso misalnya, mendapat julukan “Blawong” yang berarti burung perkutut mahal yang indah dan merdu bunyinya. Lalu tentu saja Mbah Ma’shum, dengan julukan “Ayam Jago” yang diperoleh langsung dari sang guru, Mbah Kholil Bangkalan.

Waktu itu, sehari sebelum kedatangan Mbah Ma'shum ke Bangkalan, Mbah Kholil ngutus para santri untuk membuat kurungan ayam. "Tolong aku dibuatkan kurungan ayam jago. Besok akan ada ayam jago dari tanah Jawa yang datang kesini" kata Mbah Kholil. Lalu keesokan harinya, Mbah Ma'shum pun datang. Saat itu usianya sekitar 20 tahun, dan anehnya Ma’shum muda langsung dimasukan ke kurungan ayam itu.

Saat nyantri di Bangkalan, bukannya menimba ilmu, Mbah Ma'shum malah diperintah oleh Mbah Kholil untuk mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari. Uniknya, pengajian dilakukan oleh Mbah Ma'shum di sebuah kamar tanpa lampu, sedangkan santri-santrinya berada di luar.

Ma’shum muda hanya 3 bulan nyantri di Bangkalan, meski begitu keilmuan dan kealimannya telah diakui oleh sang guru. Ketika hendak pulang, sebuah kejadian menarik dialami oleh Ma’shum muda. Mbah Kholil tiba-tiba memanggilnya, dan tanpa sebab apapun, Ma’shum didoakan dengan do'a sapu jagad. Lalu setelahnya, saat Ma'shum melangkah pergi beberapa meter, beliau dipanggil lagi oleh Mbah Kholil dan dido'akan dengan do'a yang sama. Hal ini terjadi berulang hingga 17 kali.

TerPopuler