-->

Dalil Tentang Dibolehkannya Maulid Nabi

hpk
ISLAMIDINA - Maulid Nabi adalah suatu peringatan yang dilakukan oleh kalangan umat islam untuk memperingati hari kelahiran baginda besar Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi Wassalam. Maulid Nabi sendiri diperingati setiap bulan Rabiul Awal karna pada bulan tersebut lahir seorang manusia termulia yaitu Nabi Muhammad SAW. Karna pada saat itu tepatnya 12 Rabiul Awal Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Namun membahas seputar peringatan Maulid Nabi ini di Indonesia khususnya banyak menuai kontroversial. Ada yang berpendapat boleh ada yang berpendapat tidak boleh bahkan ada yang berpendapat hal tersebut termasuk kedalam kategori bid'ah. Bagaimanakah mana yang benar? mari kita bahas bersama.

Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi Wassalam

Sebelum kita membahas tentang maulid sebaiknya kita bahas terlebih dahulu tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal pada tahun gajah. Kenapa disebutkan tahun gajah? karna pada masa itu terjadi suatu peristiwa yang sangat besar dimana ada penyerangan dari Abrahah yang ingin menghancurkan ka'bah untuk selengkapnya kalian bisa membaca di artikel saya sebelumnya disini : Sejarah Kisah dan Karomah Surat Al-Fil 

Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Siti Aminah dan ayahnya bernama Abdullah beliau merupakan keluarga terhormat di Mekkah namun sayangnya saat beliau lahir ke Dunia beliau sudah dalam keadaan yatim. 

Kenapa Merayakan Maulid Nabi?

Lalu timbul pertanyaan mengapa sih kita merayakan Maulid Nabi? padahalkan banyak yang bilang itu bid'ah. Kalau menurut saya sendiri sih memperingati maulid Nabi itu merupakan salah satu bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karna jika dibandingan ketika kita mempunyai seorang kekasih atau teman dekat ketika ia ulang tahun apakah kita merayakan nya? jika merayakan apa alasannya buang buang duit untuk merayakan ulang tahun teman dekat kita? jawabannya satu yaitu bukti cinta kita kepada teman dekat kita tersebut.

Karna dari itu peringatan maulid Nabi pun merupakan salah satu bentuk cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karna ada sebuah keterangan yang menjelaskan.

يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي، وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الجَنَّةِ. أخرجه الترمذي رقم 

Latin Arab : MAN AHYA SUNNATI FAQOD AHABBANI WAMAN AHABBANI KANA MA'I FIL JANNAH.

Artinya : Wahai anakku itu adalah termasuk sunnahku, barangsiapa menghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku maka dia akan bersamaku di surga. HR. Tirmidzi no. 2678

Walaupun hadits teresebut di dhaifkan oleh Syaikh Al-Albani tapi tidak ada salahnya jika kita menunjukan bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Sekalipun memang suatu saat kita tidak bisa bersama Nabi disurga setidaknya kita sudah berupaya untuk diakui sebagai salah satu umat Nabi Muhammad SAW.

Karna apapun yang kita lakukan di dunia ini akan menjadi saksi kelak di akhirat. Semoga saja kita semua berharap dengan adanya maulid Nabi ini kita akan diakui sebagai salah satu umat Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi Wassalam.

Dalil dan Hadits Maulid Nabi

Lalu selanjutnya bagaimanakah dalil yang menyebutkan dibolehkannya peringatan maulid Nabi Muhammad SAW? dikutip dari Hadits Shahih Bukhari yang menyebutkan bahwa pada setiap hari senin Abu Lahab diringankan siksaannya oleh Allah SWT karna ia gembira akan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
 
Artinya : “Urwah berkata, Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Ia dimerdekakan oleh Abu Lahab, untuk kemudian menyusui Nabi. Ketika Abu Lahab meninggal, sebagian keluarganya bermimpi bahwa Abu Lahab mendapatkan siksa yang buruk. Di dalam mimpi itu, Abu Lahab ditanya. Apa yang engkau temui? Abu Lahab menjawab, aku tidak bertemu siapa-siapa, hanya aku mendapatkan keringanan di hari Senin karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah.”

Dalam hadits teresebut dijelaskan bahwa pada ketika hari kelahiran Nabi Muhammad SAW Abu lahab merasa bahagia dengan memerdekakan Tsuwaibah sebagai bentuk luapan kegembiraannya. Karna itu lah ia diberikan keringanan oleh Allah SWT. 

Itu Abu Lahab lantas kenapa kita selaku umat beliau tidak gembira atas datangnya hari kelahiran beliau? Karna menurut saya sendiri wajar saja jika kita meluapkan kegembiraan kita terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ 

Aritnya : “Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kelak di akhirat kita akan bersama dengan orang yang kita cintai maka dari itu sebagai bentuk kecintaan kita terhadap Nabi maka kita mengadakan Maulid. Semoga aja kita sama sama berdoa dan berharap kita dapat dikumpulkan bersama Nabi Muhammad SAW.


Semoga artikel kali ini bisa bermanfaat terimakasih telah berkunjung.

0 Response to "Dalil Tentang Dibolehkannya Maulid Nabi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel