Asal Usul Tahlilan Bagi yang baru meninggal : Benarkah Tradisi Hindu dan Bid'ah?

Asal Usul Tahlilan Bagi yang baru meninggal : Benarkah Tradisi Hindu dan Bid'ah?

Sunday, 5 April 2020, April 05, 2020

Asal Usul Tahlilan Bagi yang baru meninggal : Benarkah Tradisi Hindu dan Bid'ah?

Membantah Tahlilan 7 hari hingga 1000 hari Amalan Bid'ah Bahkan Tradisi Hindu
Tak henti-hentinya pengikut Wahabi/Salafimenyalahkan Amaliyah ASWAJA, khususnya di Indonesia ini. Salah satu yang palingsering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkanDalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu. Untuk itu, kali inisaya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Haridari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindusebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI.
Tradisi Tahlilan di Masyarakat Indonesia Miliki Hikmah Luhur
Rasulullah saw bersabda: “Doa danshodaqoh itu hadiah kepada mayyit.” Berkata Umar: “shodaqoh setelahkematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akantetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh di hari ke tujuh akankekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya lalusedekah dihari ke 40 akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampaikepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000hari.”
Referensi : (Al-Hawi lil FatawiJuz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25,40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama

Hinduada Tahlilan ?
Berkumpul ngirim doa merupakan bentuk shodaqoh buat mayyit.
Ketika Umar sebelum wafatnya, iamemerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamuselama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidanganditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbasbin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telahwafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakardan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, makamakanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, makaorang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.
Referensi: [Al Fawaidussyahiir LiAbi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’alJuz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]
Kemudian dalam kitab Imam AsSuyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi: Imam Thawus berkata: “Sungguhorang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selamatujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai gantidari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

Dari Ubaid bin Umair ia berkata:“Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur.Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorangmunafiq dis
iksa selama empat puluh hari.”
Dalam tafsir Ibn Katsir (AbulFida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surahan Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwatidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi bacaanalquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai.

Menurut Imam Syafi’i pada waktubeliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik danImam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindahke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yangdihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahummaawshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’iyang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.
Pandangan Hanabilah, TaqiyuddinMuhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan IbnuTaimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:
“Adapun sedekah untuk mayit, makaia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua ituterkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataansahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan akuberpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jikaaku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu jugabermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfarkepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.
Referensi : (Majmu’ al-Fatawa:XXIV/ )

Ibnu Taimiyah juga menjelaskanperihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaanal-Qur’an kepada mayit. dalam sebuah dalil yang artinya: “jika saja dihadiahkankepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an /kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.
Referensi : (Majmu’ al-Fatawa:XXIV/322)
Mengapa kami mengutip dalil dari Ibnu Taimiyah? yah karena kebanyakan Pengikut Salafi/Wahabi sering merujuk dalil suatu amalan pada beliau, maka perlu dijelaskan pula apa yang beliau sampaikan terkait tahlilan tersebut.

Sedangkan Al-Imam Abu Zakariya MuhyiddinIbn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawimenegaskan;
“Disunnahkan untuk diam sesaat disamping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunankepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya,dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayatal-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkanal-Qur’an”.
Selain paparannya di atas ImamNawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;
“Dan disunnahkan bagi peziarahkubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayityang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebihsempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan ataudiajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’ansemampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash olehImam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati olehpengikut-pengikutnya”.
Referensi : (al-Majmu’ Syarhal-Muhadzab, V/258)
Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddinibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat ImamAhmad bin Hanbal

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamahberkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) disamping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanyabeliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi danQul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: YaAllah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.
Referensi : (al-Mughny II/566)
Wallohu a’lam Bisshowab

TerPopuler