Karomah Sunan Gunung Jati, Berjalan diatas air hingga rubah Pohon jadi Emas -->

Karomah Sunan Gunung Jati, Berjalan diatas air hingga rubah Pohon jadi Emas

Sabtu, 10 Oktober 2020, Oktober 10, 2020

Karomah Sunan Gunung Jati - islamidina.id,- Assalamualaikum wr wb, Hai sahabat Media Islami yang berbahagia.

Selamat bertemu kembali dengan kami admin islamidina.id " Media Islami yang mencerahkan umat "

Kali Ini Kita akan kembali membahas tentang salah satu Walliyullah yang turut menyebarkan Islam di Nusantara Khususnya Tanah Jawa atau biasa disebut Wali songo.

Pada Artikel sebelumnya kita telah membahas panjang lebar tentang Karomah Sunan Kalijaga, untuk saat ini kita akan membahas tentang karomah Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu anggota walisongo yang sangat berperan terhadap penyebaran Islam di tanah jawa khususnya di wilayah Jawa Barat.

Beliau masih mempunyai garis keturunan dari kerajaan Padjajaran, Karena beliau merupakan cucu prabu Siliwangi. Raja Padjajaran yang sangat disegani oleh masyarakat Sunda.

Sunan Gunung Jati merupakan anak dari pasangan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda dan Rara Santang ( Putri Prabu siliwangi ).

Sunan Gunung Jati dilahirkan dengan nama Syarif Hidayatullah, Beliau telah mendapatkan pendidikan dan pelajaran agama Islam sejak dini langsung dari sang ayah yang merupakan keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Sesuai riwayat dan beberapa naskah Kuno, Syarif Hidayatullah sangat berperan dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam terutama di Wilayah Cirebon dan Banten serta Jawa Barat pada Umumnya.

Sunan Gunung jati berdakwah dengan menggunakan berbagai macam media dan cara antara lain dengan Kesenian, Perdagangan dan perkawinan serta banyak metode lainnya.

Beliau merupakan Ulama sekaligus Raja yang terkenal cerdas dan mempunyai banyak Karomah sehingga mampu memikat banyak masyarakat saat itu untuk memeluk Islam.

Karomah Sunan Gunung Jati

Karomah Sunan Gunung Jati

Seperti dikutip dari Attarbiyah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah mempunyai berbagai macam Karomah antara lain :

1. Merubah Pohon Menjadi Emas

Konon suatu ketika, saat muda Sunan Gunung jati hendak endak menunaikan rukun Islam kelima (haji) ke Baitullah. 

kala itu Rara Santang selaku ibunya hanya membekali beliau dengan sejumlah uang yang terbatas.

Dimana ketika dalam perjalanan menuju Baitullah tersebut, Sunan Gunung jati dihadang sekelompok perampok.

Tanpa basa-basi, semua uang pemberian ibunya sebanyak seratus dirham, dia berikan kepada para perampok tersebut.

Namun Para Perampok rupanya tidak merasa puas dengan apa yang telah diberikan oleh Sunan Gunung Jati Muda.

Mereka menyangka bahwa dia membawa uang lebih dari sekedar yang diberikan. Mereka lalu terus memaksanya untuk memberikan harta yang dibawanya.

Melihat hal tersebut, Syarif Hidayatullah malah tersenyum dan menyuruh mereka untuk melihat ke sebuah pohon.

“Ini ada satu lagi, sebuah pohon dari emas, bagilah di antara kawan-kawanmu”. Ternyata, pohon yang ditunjuknya berubah menjadi emas. Akhirnya mereka masuk Islam dan menjadi murid dari Syarif Hidayatullah.

2. Berjalan Diatas Air

Masih dalam Kisah perjalanannya menuju dan kembali dari Baitullah, Sunan Gunung Jati kembali memperlihatkan Karomahnya yang Luar Biasa.

Dimana Atas Ijin Allah SWT beliau disebutkan berangkat dari Mesir kembali keTanah Jawa, tidak dengan menggunakan kapal atau perahu Namun dengan berjalan Diatas Air Laut ( Masyaallah )

3. Kibasan Surabannya Mampu mengeluarkan Pasukan Tentara Tikus.

Karomah Sunan Gunung Jati berikutnya sesuai dengan yang dikisahkan dalam berbagai kitab/buku adalah mampu mengeluarkan bala tentara tikus ketika mengibaskan surbannya.

Hal tersebut terjadi pada saat terjadi peperangan antara Pasukan kerajaan Demak dan Majapahit.

Dimana untuk membantu Pasukan dari kerajaan Demak Sunan gunung Jati mengeluarkan surbannya dan setelah dikibaskan, maka muncul bala tentara tikus yang sangat banyak dan menyerang bala tentara Majapahit sehingga mereka panik dan berantakan.

4.  Mampu Mengusir Bala Tentara Ghoib Pangeran Kuningan

Karomah Sunan Gunung jati berikutnya dikisahkan dalam Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon (t.t.: 85-86).

Bahwa pada suatu ketika, Syarif Hidayatullah bertanya kepada Pangeran Kuningan tentang bagaimana cara mengislamkan raja-raja Pasundan.

Pada waktu itu Pangeran Kuningan justru menjawab bahwa dirinya memiliki suatu jimat yang dapat mendatangkan bala tentara yang banyak dengan cara mengumpulkan kerikil dan jamur merang yang ditetesi dengan jimat cupu tirta bala.

Setelah itu tiba-tiba muncul bala tentara yang sangat banyak dan memenuhi alun-alun Cirebon.

Peristiwa ini menimbulkan rasa kaget dan heboh di kalangan penduduk Cirebon. Lalu Syarif Hidayatullah membacakan doa tolak bala. Tatkala selesai berdoa tersebut, maka bala tentara Pangeran Kuningan itu seketika hilang dan kembali ke asalnya.

5. Menyembuhkan Berbagai Macam Penyakit

Sunan Gunung Jati ternyata bukan hanya menyebarkan Islam di Nusantara, namun dalam beberapa kisah beliau menyebarkan Islam hingga daratan China Khususnya Daerah Nanking.

Dakwah tersebut beliau lakukan pada tahun 1479. Dimana dalam Dakwahnya tersebut Sunan gunung jati kembali memperlihatkan Karomahnya yang luar biasa dengan mampu mengobati berbagai macam penyakit.

Dengan Karomah tersebut nama beliau makin terkenal hingga akhirnya terdengar oleh kaisar yang saat itu sedang berkuasa yaitu Kaisar Hong Gie dari dinasti Ming.

Kaisar Hong Gie yang merasa terganggu karena ada orang asing lebih pandai dari rakyatnya. Lalu sang Kaisar mengundang Syarif ke istananya.

Maka Dipanggilah Sunan Gunung Jati menghadap untuk diuji kemampuannya. Kaisar lalu meminta agar putrinya Ong Tien seolah-olah hamil dengan meletakan bokor kuningan di perutnya hingga mirip orang yang sedang mengandung.

Kemudian dia duduk berdampingan dengan saudarinya yang memang sedang hamil tiga bulan.

Syarif Hidayatullah disuruh menebak mana yang bener-benar hamil. Lalu Syarif Hidayatullah menunjuk Ong Tien, sang Kaisar pun ketawa terkekeh.

Jawaban Sang Sunan adalah Putri Ong Tien sedang mengandung, jelas saja Kaisar mencemoohnya. 

Merasa berhasil membuktikan bahwa Sunan tidak sepandai seperti yang dikatakan orang lalu Hong Gie mengusir Syarif Hidayatullah pulang ke tanah Jawa.

Namun kemudian nyatanya diketahui bahwa Ong Tien memang hamil. Sang putri yang jatuh cinta kepada sang sunan tak kuasa untuk menahan rindu meminta izin untuk menyusul Sunan Gunung Jati yang kembali ke Cirebon.

Kaisar mengizinkannya dan meminta pelautnya untuk mengantar putrinya ke Jawa. Sunan Gunung Jati pun akhirnya menikahi sang putri. Sayang, umur pernikahan tak lama. Ong Tien meninggal pada usia yang masih sangat muda 23 tahun.

6. Memindahkan Kerajaan Ke Alam Ghoib

Salah satu Karomah Gunung Jati lainnya adalah memindahkan Istana Kerajaan Hindu Pakuan ke alam gaib. 

Hal ini dilakukannya karena kerasnya penolakan para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.

Cerita ini bermula saat saat jatuhnya Kerajaan Galuh Pakuan, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 karena diserang pasukan Demak yang dibimbing oleh Sunan Gunung Jati.

Peristiwa ini terjadi setahun sebelum Sunan Gunung Jati wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun tepatnya pada tahun 1569.

Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar Istana Galuh Pakuan, Syarif Hidayatullah memberikan dua penawaran.

Penawaran atau opsi pertama, para pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar pangeran, putri atau panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing.

Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.

Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para pangeran dan putri-putri raja menerima penawaran pertama. Sedang pasukan kawal istana dan panglimanya (sebanyak 40 orang) dari angkatan darat kerajaan Pakuan memilih penawaran kedua.

Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal Istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.

Sementara para Pendeta Sunda Wiwitan menolak penawaran pertama dan kedua. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan  tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.

Sehingga atas Ijin Allah SWT Sunan Gunung Jati lalu memindahkan Istana Galuh Pakuan ke alam Gaib sehingga para Pendeta Wiwitan tidak lagi berada di Istana tersebut.

Demikianlah Sahabat tentang pembahsasan kita tentan riwayat dan Karomah Sunan Gunung Jati.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisan yang di tutur tinularkan dari generasi ke generasi, sudah sepatutnya kita mengambil Hikmah bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi bila Allah SWT berkehendak.

Wassalamualaikum wr wb. Wallohu A'lam Bisshowab.


TerPopuler