-->

Kalut Perantau Tak Bisa Mudik: Gimana Lagi Sudah Kayak Gini

hpk

 

Kalut Perantau Tak Bisa Mudik: Gimana Lagi Sudah Kayak Gini

 

 

 

 

Ribuan orang-orang tercatat telah meninggalkan Jakarta semenjak kemarin hari sebelum


Meski demikian, kebanyakan perantau dari beberapa tempat tetap bersi kukuh di Jakarta, baik sebab larangan mudik maupun faktor ekonomi dampak pandemi.

Lihat juga: Warga Nekat Mudik Diadang 'Pocong serta Kuntilanak' di Ciamis


Aris (38) seorang penjual sate Padang yg mangkal di depan Universitas Nasional, Pasar Minggu, Jakarta Selatan asal Pariaman, Padang, Sumatra Barat salah satunya.


Ia tak dapat mudik Lebaran tahun ini. Sejak dihantam pandemi, pendapatannya dari berdagang sate padang turun hingga 50 persen.


"Pertama ada cegatan, kedua kondisi ekonomi kan," Aris dikala ditemui di lapaknya, Kamis (6/5) malam.



Aris terpaksa kembali menahan diri untuk mudik. Penghasilannya kini hanya lumayan untuk menghidupi anak serta istrinya di Jakarta.


Padahal, di kampung halaman, bunda Aris terus berusia sementara ayahnya telah meninggal. Ia cemas tak dapat kembali menemui ibunya.


"Ya, takut [tidak dapat berjumpa bunda lagi]. Habis gimana lagi telah kayak gini, kan," kata Aris.


Sarni Sukmawati (34) seorang perantau asal Indramayu, Jawa Barat yg bekerja di salah satu kios laundry di Jalan Salihara, Pasar Minggu bingung dengan agenda mudik.


Sarni terbukti mengikuti aturan pemerintah untuk tak mudik selagi masa larangan diberlakukan. Meski demikian, ia berniat mudik ke kampungnya dikala masa larangan itu selesai.


Di satu sisi, Sarni ingin berkumpul dengan keluarganya. Terutama menemui kakek serta neneknya. Ia khawatir tak dapat berjumpa mereka lagi sebab usia yg telah tua. Sementara belum dapat dipastikan kapan pandemi akan berakhir.


"Tapi, kan jikalau kita pulang lebih khawatir [membawa virus] juga. Soalnya di sana telah pada tua," kata Sarni bimbang.


Sementara itu, Sugeng (37) pedagang buah asal Boyolali, Jawa Tengah yg sehari-hari menjual buah di Jalan Pejaten Raya, Pasar Minggu mempunyai ketakutan yg tak sama sebab dua tahun berturut-turut tak mudik.


Ia khawatir absensi dalam peristiwa bersama keluarga di kampung menjadi biasa.


Orang-orang di rumah tak lagi merasa keberatan ketika beberapa anak buah keluarganya tak dapat bersua.


"Yang saya khawatirkan gitu, telah biasa enggak ada. Padahal pada diri kita sendiri kan pengen banget ngumpul," kata Sugeng dengan emosional.


Padahal, Sugeng berpendapat peristiwa Lebaran di keluarganya spesial serta unik.



Banyak anak buah keluarganya menganut agama yg berbeda-beda. Sugeng menyebutkan, saudara ibunya menganut agama Katolik sementara kakek serta neneknya menganut agama Budha. Sementara, keponakannya menganut agama Protestan.


Namun, dikala Idul Fitri tiba, mereka semua tetap berkumpul di Boyolali, Jateng serta memperingati peristiwa Lebaran bersama.


Menurut Sugeng, faktor ini juga terjadi di kampungnya yg hampir seluruh warganya menganut agama Budha.


"Yang ada vihara sama gereja. Musala di kampung satu pun kagak ada, tapi jikalau Lebaran rame pada pulang semua," kata Sugeng mengenang.


Sementara itu, niat untuk mudik lantaran mesti berjumpa orang-orang tua sempat membikin Hamzah (38), bukan nama sebenarnya, melakukan perjalanan mudik dengan tutorial tak biasa.


Hamzah sehari-hari bekerja di suatu warung kopi di Kedaung, Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Pria asal Majalengka, Jawa Barat ini melakukan mudik dari Tangerang Selatan menumpang angkot.
Lihat juga: Pemerintah Pastikan Sanksi Bagi Masyarakat Nekat Mudik


"Tanpa itu [masa mudik] pun dari sini sebulan sekali pulang kampung, sebab ada orang-orang tua yg wajib dirawat," kata Hamzah dikala dihubungi melewati sambungan telepon.




Mulanya, Hamzah naik angkot jurusan Parung, Bogor. Dari sana, ia naik angkot jurusan Merdeka. Dari Merdeka, ia naik angkot jurusan Ciawi.


Setelah di Ciawi, ia melanjutkan mudiknya memakai angkot hingga Bandung. Di Bandung, Hamzah kemudian naik kendaraan beroda empat elf hingga Majalengka.


"Ada kali 10 kali angkot," kata Hamzah.


Saat itu, Jamzah juga mengangkat tas serta beberapa barang lainnya. Agar tak dicurigai, Hamzah memasukkan barang bawaannya ke dalam karung.


"Saya beli karung tuh di warung sebelah, saya masukin karung biar simpel," kisah Hamzah.



Meski dapat hingga rumah, Hamzah mesti mengeluarkan ongkos lebih banyak. Jika perjalanan melewati rute biasa hanya menghabiskan Rp120 ribu, melewati rute angkot ini Hamzah mesti mengeluarkan uang hingga Rp180 ribu.

"Itu ada pembengkakan 40 persen," ucap Hamzah.

0 Response to "Kalut Perantau Tak Bisa Mudik: Gimana Lagi Sudah Kayak Gini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel